Selasa, 17 Maret 2015

Pergantian Nama Tokoh

    Selamat Pagi, disini saya selaku penulis ingin menyampaikan permohonan maaf karna telah mengganti nama tokoh dari keluarga Pak Kusno. Ini dilatar belakangi karna saya pikir salah tokoh sebelumnya itu hanya fiktif dan hanya nama yang penulis pikirkan sedangkan nama Udjank adalah nama panggilan penulis, sementara Pak Kusno dan Ibu Fatma adalah nama tokoh besar yang mungkin jarang kita kenal. Sebagai contoh Pak Kusno, nama tersebut adalah nama kecil dari Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama kita. Nama asli Soekarno adalah Kusno Sosrodihardjo yang diberikan oleh Raden Soekemi Sosrodihardjo, dan Ida Ayu Nyoman Rai selaku kedua orang tua dari Bung Karno. Sedangkan Ibu Fatma adalah istri ketiga Soekarno yang menjahit Bendera Pusaka Merah Putih pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan nama asli Fatimah. Sedikit penjelasan tentang perubahan mengapa nama Kusno menjadi Soekarno yang terkenal hingga saat ini walaupun ada ada sedikit codet dalam hidup Soekarno pada peristiwa G/30/S (Gestapu, Gestok). Oke kita balik lagi ke perubahan nama, Kusno kecil sering sekali terkena penyakit seperti malaria,disentri dan tifus. Nah, dalam kebudayaan Jawa anak-anak yang sering sakit-sakitan biasanya karena terlalu berat nama yang disandangnya. Bukan berat yang lain ya kaya berat badan. Nah sang ayah, Raden Soekemi merubah nama Kusno kecil menjadi Karna. Ko kaya nama sunda ya !!!, salah kalo mikir gitu, ternyata Karna adalah nama dalam kisah Bharata Yudha yang terkenal itu loh... Peninggalan dari Kerajaan Kediri yang diadaptasi dari cerita Mahabharatanya orang India. Nama Karna ini berarti sebagai Panglima Perang. Pantes jiwa kepemimpinannya mantapss banget. Ya walaupun banyak juga ga bagusnya pas Bung Karno menjabat sebagai Presiden (Sebagai kepala Pemerintahan dan Kepala Negara) tahun 1959-1965. Nah jadi memang biasanya nama banyak dikasih sama orang tuanya karena makna dari nama tersebut diharapkan akan baik pada orang yang menggunakan nama tersebut dan sesuai dengan namanya. Eitss  belom kelar loh, nah dalam masyarakat Jawa, nama a diganti dengan o, makanya menjadi Karno. Kalo Soe atau Su itu berarti Baik. Maka Jadilah Soekarno (Sukarno dalam ejaan sekarang).
    Tadi kan tentang pak Kusno, sekarang kita bahas siapa sih si Tina, atau Sutartinah????. Kalo kalian pernah dengar nama Taman Siswa atau Kongres Perempuan Pertama pada tahun 1928, pasti tidak tahu, iya lah ini kan nama asli dari seorang perempuan. Nah Tina itu adalah nama asli dari Ny. Hadjar Dewantara , nama super aslinya itu adalah Raden Ayu Sutartinah Sasraningrat. Tina atau Ny. Sutartinah juga mempunyai peran loh di Kongres perempuan (lain waktu kita bahas kongres perempuan). 
    Sekarang kita bahas siapa itu Ibrahim??. Nama salah satu nabi yang membuat Ka'bah kah? ato siapa gitu?? . Nama yang sering kita kenal dari Ibrahim pun sekarang sudah banyak yang tidak tau, padahal Ibrahim adalah salah satu dari The Founding Father bangsa kita tercinta ini. Ya namanya seolah tenggelam dalam sejarah pada masa Orde baru, dan pemberontakan PKI di Madiun. Ada loh kata-kata beliau yang membahana, atau cetar ala syahrini lah gitu, yaitu Ingatlah! bahwa dari alam kubur, Suara saya akan lebih keras dari pada dari atas bumi. Ya kalo memang masih belum tau beliau ialah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka. Memang beliau merupakan pahlawan nasional yang diberikan oleh presiden Soekarno, namun kisahnya seolah tenggelam karena propaganda dari Soeharto yang mendiskreditkan PKI. Padahal pemikiran dari Tan Malaka berbeda dengan PKI, sebagai contoh pada peristiwa pemberontakan PKI terhadap pemerintahan kolonial Belanda bukan pada pemerintahan Indonesia karena Indonesia belom ada pada tahun 1926/1927. Tan Malaka dengan jelas menolak keputusan partai untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bahkan ada yang melabeli Tan Malaka Pengkhianat karena telah mendirikan Partai Baru yaitu Partai Republik Indonesia, karena di anggap memecah PKI dan tidak mematuhi keputusan partai yang mengadakan Kongres di Prambanan. Nah itu dia sekilah tentang siapa itu Tina dan siapa itu Baim.
    Memang nama itu mengandung arti penting, karena nama memang ada yang bilang sebagai doa. Jadi jika kalian punya anak namailah anak kalian dengan baik dan sesuai. Jangan karena ngefans dengan seseorang atau karena namanya kebule-bulean kalian beri nama tersebut tanpa tau makna dari nama tersebut.
    

Kamis, 12 Maret 2015

MANUSIA PURBA A'LA PAK GURU



Esok harinnya, keluarga pak Kusno menjalani kesehariannya masing-masing. Pak Kusno bekerja sebagai pekerja swasta, ibu fatma sebagai ibu rumah tangga, dan kedua anaknya Tina dan Baim bersekolah ditempat yang sama di SMP Cinta Histori. Selama perjalanan menuju kantor, pak Kusno tetap memikirkan cara agar anaknya mudah untuk memahami mengapa kita harus belajar Manusia Purba, padahal jelas-jelas kita tidak berbentuk kera atau berevolusi. Dalam hati pak Kusno, ‘kalo misal kita dulu berevolusi dari manusia yang sangat tidak sempurna menjadi sekarang harusnya kita juga berevolusi lagi kebentuk lainnya dong ’. Bukankah dalam agama Islam jelas manusia pertama adalah Nabi Adam? . Apa sebenernya manusia purba berbarengan jamannya sama Nabi Adam?, atau sebenernya manusia purba itu beneran hewan (kera) bukan manusia?. Pak Kusno terus memikirkan ini, dan dia berniat untuk mencari tau lebih detail tentang si ‘Manusia Purba’ ini.
Di sekolah, Tina masih ingin sekali menanyakan tentang manusia purba ke gurunya, tp dia takut karena materi tersebut sudah dilaluinya dulu dikelas tujuh. “ah nanti aja nanyanya kalo udh sepi”, gumam Tina dalam hati. Saat selesai sekolah kebetulan dia bertemu dengan Pak Soewardi pengajar IPS. Dengan sedikit keraguan Tina mendekati pak Soewardi dan mulai bertanya,

Tina : “ siang pak, saya boleh tanya tidak pak?” , bertanya sambil menundukan kepala

Pak Soewardi : sedikit kaget, “ ouh iya siang, ada apa Tina memangnya ? ko belum pulang?”

Tina : “ gini pak, saya mau nanya tentang manusia purba, abis dulu saya kurang ngerti.”

Pak Soewardi : sambil meneruskan jalannya ke ruang guru, “ oh boleh, memangnya kenapa ko tiba-tiba kepikiran sama manusia purba? Bukannya itu materi kelas 7 ya? “

Tina : mengikuti disampingnya sambil mengangkat-angkat tali tasnya, “ iya pak, saya kemarin malam nonton acara tv tentang manusia purba, saya jadi kepikiran bener ga sih pak nenek moyang kita berbentuk kera?

Pak Soewardi : sambil tersenyum, “ nenek moyang kita seorang pelaut lah Tina.”

Tina : sedikit tertawa, “ yah pak itu mah lagu waktu saya masih SD.” Menghela nafas, “maksud saya bentuknya bapak, bukan kerjaannya pak.”

        Tak terasa mereka sudah sampai di depan ruangan guru. Dan pak Soewardi tidak masuk ke ruangan guru melainkan duduk di bangku yang berada di depan ruangan guru, dan Tina pun mengikuti duduk disebelahnya. Sebelum pak Soewardi memulai pembicaraan Tina bertanya ,

Tina : “ Pak saya tidak menggangu bapak yang ingin pulang?”

Pak Soewardi : sambil senyum dan melihat ke arah Tina, “ Tidak nak, bapak senang ada yang mau bertanya, apalagi tentang sejarah.”

Tina : sambil tersenyum lebar, “ iya pak abis saya heran kenapa ko kita dulu digambarkan sebagai bukan ‘manusia’.”

Pak Soewardi : “ iya itu kan rekonstruksi ulang dari temuan-temuan tulang belulang yang ditemukan oleh para arkeolog.”

Tina : sambil garuk kepalanya, “ rekonstruksi apa pak? Arkeolog apa pak? Hehehe, ”

Pak Soewardi : tertawa kecil, “hehehe, maaf, maaf, rekonstruksi itu membuat ulang atau membangun ulang, jadi tulang belulang yang ditemukan itu dibuat ulang. Nah arkeolog itu orang yang menggali benda-benda berkaitan manusia purba. Gitu gampangnya.”

Tina : “ oh jadi kaya lego dong pak? Hehe, disusun sampe jadi bentuk yang sempurna?”

Pak Soewardi : “ ya begitulah kalo mudahnya, sebagai contoh, kenapa disebut pithecantropus erectus , atau dalam bahasa indonesia itu manusia kera berbadan atau berjalan tegak, itu karena ditemukan tulang pahanya yang sudah mencirikan manusia purba tersebut sudah berjalan tegak. Seperti itu.”

Tina: sambil ngangguk-ngangguk, “ oh begitu pak, tapi saya masih bingung pak kenapa kita harus mempelajari sejarah manusia purba sih pak? Ato ga jelasin dikit deh pak tentang manusia purba, maaf ya pak mengganggu waktunya.”

Pak Soewardi : “ gpp ko, tenang aja, masih jam 2 juga, jadi masih banyak waktu. Okeh begini ya, kenapa kita harus belajar sejarah dulu ya, pernah dengar kata Historia Vitae Magistra?

Tina: geleng-geleng kepala, “ enggak pak! ”

Pak Soewardi: sambil senyum “ Historia Vitae Magistra merupakan istilah yang berasal dari bangsa Romawi. Yang berarti sejarah adalah guru kehidupan, nah maksudnya adalah agar dapat hidup dengan lebih baik seseorang harus berguru kepada sejarah.”

Tina : “ouwh ternyata sejarah keren juga ya pak, bisa jadi guru dan untuk menjadi lebih baik.”

Pak Soewardi : “ iya seperti itulah, gini contoh gampangnya, misalkan nih kamu naek sepeda kesekolah, ternyata di perjalanan ada jalan berlobang, n kamu jatoh karna lobang tersebut. Nah kira-kira besoknya kamu jatoh lagi ga karena lobang tersebut?”

Tina : “ ya enggak lah pak, kan saya udh tau lobangnya ada dimana.”

Pak Soewardi : senyum ke Tina, “ nah gitulah, jadi ada sejarawan dari Inggris bilang kalo 5 menit yang lalu dari hidup kita adalah sebuah sejarah, jadi intinya sejarah itu mampu mengubah kita kalo kita belajar dari sejarah.”

Tina : “ ouwh begitu ya pak, “ sambil ngangguk-ngangguk.

Pak Soewardi : “ nah gini, sejarah juga punya manfaat, salah satunya nih ya adalah memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa, jadi gini Suatu masyarakat atau bangsa tak mungkin akan mengenal siapa diri mereka dan bagaimana mereka menjadi seperti sekarang ini tanpa mengenal sejarah. Sejarah dengan identitas bangsa memiliki hubungan timbal-balik. Akar sejarah yang dalam dan panjang akan memperkokoh eksistensi dan identitas serta kepribadi suatu bangsa. Bangsa itu, karenanya, akan bangga dan mencintai sejarah dan kebudayaannya.

Tina : “ iya pak, biar kita tau bangsa kita ya pak, ya walaupun saya masih ga setuju kalo misal neneng moyang aku disamain sama kera !”

Pak Soewardi : “ ya itu kan dikembangkan berdasarkan teori evolusinya lamarck dan darwin, makanya kita mempelajari manusia purba. Dan kan memang masih samar-samar teori tentang manusia purba ini.”

Tina : melihat jam yang telah menunjukkan jam 14.30, “ makasih ya pak atas penjelasannya, ya saya jadi mengerti kenapa kita harus belajar sejarah manusia purba,”

Pak Soewardi : “ ya sama-sama , nah kalo mau lebih detail lagi, baca buku sejarah nasional indonesia tulisan dari Marwati Djoened dan Nugroho Notosutanto aja yang jilid 1.”

Tina : raut muka bingung, “ ehhh, oh iya pak nanti saya pinjem diperpus, makasih ya pak sebelumnya, saya pulang duluan ya pak, sudah dijemput.”
Pak Soewardi : “ iya, sama-sama nak, hati-hati.”

    Dalam perjalanan pulang sepertinya masih ada yang mengganjal dari hati Tina karena masih banyak yang belum dipahami dan apa saja sih jenis manusia purba, ko bisa dari monyet menjadi manusia sempurna seperti sekarang. Dalam hati kecilnya Tina, ah saya mau nanya ayah, siapa tau dia tau, hehe. Tina memang sering dijemput sama ojek langganannya, sementara si Baim sudah pulang dari bel pulang sekolah tadi bersama temanya. Baim tidak seperti Tina yang sering menanyakan apa yang dia tidak tahu, Baim lebih suka mencarinya terlebih dahulu melalui om Google, kadang ke perpus. Ya memang jarang anak SMP yang mau ke Perpustakaan dan mau belajar lebih dari temannya apalagi hal yang tidak diketahui. Walaupun seperti itu Baim tak pernah pilih teman, teman yang malas, yang rajinpun tetap ditemani, karena memang karena bakatnya di bidang olahraga yang membuatnya banyak kenal dengan teman-temannya.
    Kita balik lagi ke kantor pak Kusno. Ternyata dia sangat serius membaca di internet tentang jenis-jenis manusia purba, peninggalannya, jaman pembagian manusia purba, dan tempat dimana ditemukannya manusia purba. Sampai-sampai dia lupa harus mengerjakan kerjaan kantornya. Inilah sifat dari pak Kusno, yang selalu ingin tahu apalagi jika anaknya menanyakan sesuatu yang dia tidak bisa jawab.
     
 setelah Tina sampai dirumah......
okeh kita lanjutkan lagi materinya dan percakapan keluarga pak Kusno di post selanjutnya ya.. kali ini penulis ingin menceritakan lebih detail tentang manusia purba, baik itu kontroversinya, penentangannya, dan yang pastinya apa yang tadi ingin dijelaskan Pak Kusno ke Tina pun ga luput diceritakan....

Jangan Malu Buat Menengok Masa Lalu kita, ini Bukan Berarti Ga Move on Move on, tapi Biar Kita Belajar dari Masa Lalu kita

Senin, 09 Maret 2015

KELUARGA PAK KUSNO DAN IBU FATMA

    Disebuah desa yang tidak terlalu terpencil namun tidak terlalu dekat dengan perkotaan. Desa ini bernama desa Sok Rates, yang berada di distrik Pelato. Hidup sebuah keluarga kecil dengan rumah yang tidak terlalu kecil namun tidak terlalu besar. Keluarga ini terdiri dari satu orang ayah, satu orang ibu, dan dua orang anak yang kebetulan kembar namun berbeda jenis kelamin. Sang ayah bernama Kusno,  sang ibu bernama Fatmawati, serta anak perempuannya bernama Sutartinah yang biasa dipanggil Tina  dan anak laki-lakinya bernama Ibrahim yang biasa dipanggil baim. Keluarga ini bisa dibilang harmonis dan sangat jarang sekali kusno dengan fatmawati bertengkar. Tina merupakan anak perempuan yang sangat aktif, bahkan selalu bertanya jika memang dia tidak tahu. Sementara saudara laki-lakinya bisa dibilang pendiam dan jarang berbicara namun kritis jika sudah berbicara. Padahal umur mereka masih bisa dibilang muda karena masih berumur 14 tahun dan masih dibangku SMP kelas 2.

    walaupun terlihat berbeda dengan anak lainnya namun tetap kedua anak itu tetap bermain adalah salah satu yang tidak bisa dihindarkan saat sore hari menjelang magrib. Tina bermain congklak , atau lompat karet, ataupun monopoly dan taplak gunung. Terlihat kuno namun ini yang diterapkan oleh orang tua Tina dan Baim, tidak membiasakan anaknya dengan gadget, karena gadget membuat anak tetangganya kuper (Jarang bergaul). Sedangkan Baim terlihat sekali jika dia berbakat dalam bidang sepakbola, karena setiap dia bermain bola selalu saja jadi rebutan yang akan jadi temannya. Itu karena dia dimasukan sekolah sepak bola oleh ayahnya. Orang tua Tina dan Baim memang tidak pernah memaksakan anaknya untuk jadi ini ataupun itu, mereka cenderung membebaskan anaknya untuk jadi apa yang mereka sukai dan cintai. Karena ini faktor penting jika anak dipaksakan dengan kehendak orang tuanya dan sang anak merasa dipaksa maka seumur hidupnya akan tidak bahagia. Sebelum nikah pak Kusno memang hobby nonton film, nah film yang menjadi rujukannya adalah 3 Idiots, film asal India yang diperankan oleh Amir khan. film yang pak Kusno tontonpun tidak hanya film fiksi, namun film yang berkaitan dengan pendidikan, sejarah, dan kritik terhadap suatu masalah seperti rasial, biografi dan lain-lain yang menurutnya dapat diambil pelajaran dari film tersebut.

    Dihari yang cerah dan sangat menyengat mataharinya padahal baru jam 10 di hari minggu, kumpulan keluarga pak kusno untuk makan. Dalam suatu perbincangan, Tina bertanya karena dia pernah nonton film tapi isinya monyet atau kera, dan dia teringat dengan apa yang dia pelajari di kelas 7 SMP tentang manusia purba. dia pun bertanya kepada ayahnya,


Tina: (menatap ke ayahnya yang sedang memakan sayur asem) "Pah, emang bener nenek moyang kita dulunya monyet?"

Pak Kusno: (sedikit tersedak), "ehmmm, ko ade bisa ngomong begitu sih?"


disaat yang sama bu fatma pun sempet tersedak dan setelahnya tersenyum. dan Baim menanggapi dengan becanda,


Baim: (sambil tertawa) " kalo misalnya monyet mama, papah n kamu monyet dong?"


kali ini kedua orang tuanya tertawa dan tidak tersinggung dengan pernyataan dari si Baim. Sedikit kesal Tina menjawab pertanyaan ayahnya dan menimpali si Baim.


Baim: (raut muka cemberut) "kamu aja yang monyet, aku sama papah n mamah enggak,!"


Ibu Fatma: (sedikit kesal), "Hushhh, ga boleh kata-kataan ah!"

Tina: (masih kesal), " ya habisnya aku nanya papah si jelek ini yang nanggepin, iya pah aku semalem ngeliat saluran TV Nasional Geografi menayangkan culplikan tentang manusia purba, dan disekolahpun aku belajar kaya gitu,"


Sang ayah sepertinya asik dengan sayur asem , sambel dan ikan asin buatan bu Fatma yang selalu dipuji masakan terbaik didunia oleh pak Kusno. Setelah minum pak Kusno menanyakan kembali ke Tina tentang materi manusia purba yang dulu juga pernah dia pelajari saat di SMP maupun di SMA.


Pak Kusno: (dengan suara ngebassnya), "Emang adek percaya kalo nenek moyang kita seekor monyet ataupun kera?"

Baim: (menanggapi secara serius) " iya kalo misal nenek moyang kita monyet ato kera kenapa kita ga mirip monyet?"

 Tina:  "Iya juga sih, ko kita ga kaya monyet ya ?" (sambil mengaca).


setelah perdebatan itu, mereka kembali melakukan aktifitasnya masing-masing. Pak Kusno menonton tv beserta bu Fatma , Tina bermain dengan temannya, sedangkan si Baim sibuk dengan bola yang dia jugling. walaupun sedang bermain sebenarnya Tina masih mengganjal kenapa kita harus mempelajari materi manusia purba padahal kita kan ga mirip sama manusia purba a.k.a monyet. Pak Kusno pun melalui smartphone sambil nntn acara memasaknya farah quinn mencari di mbah google tentang manusia purba yang nantinya akan dijelaskan ke Tina.


Esok harinya...................

kita lanjut nanti dengan materi manusia purba yang bakal di tanyakan oleh Tina dan dijelaskan oleh Pak Kusno. :)


"hal yang dapat kita ambil dari keluarga ini adalah selalu menanggapi apa yang anak tanyakan, jangan rampas hak anak dengan kata, APA SIH NANYA-NANYA TERUS, BAWEL, AYAH GA TAU,"