Kamis, 12 Maret 2015

MANUSIA PURBA A'LA PAK GURU



Esok harinnya, keluarga pak Kusno menjalani kesehariannya masing-masing. Pak Kusno bekerja sebagai pekerja swasta, ibu fatma sebagai ibu rumah tangga, dan kedua anaknya Tina dan Baim bersekolah ditempat yang sama di SMP Cinta Histori. Selama perjalanan menuju kantor, pak Kusno tetap memikirkan cara agar anaknya mudah untuk memahami mengapa kita harus belajar Manusia Purba, padahal jelas-jelas kita tidak berbentuk kera atau berevolusi. Dalam hati pak Kusno, ‘kalo misal kita dulu berevolusi dari manusia yang sangat tidak sempurna menjadi sekarang harusnya kita juga berevolusi lagi kebentuk lainnya dong ’. Bukankah dalam agama Islam jelas manusia pertama adalah Nabi Adam? . Apa sebenernya manusia purba berbarengan jamannya sama Nabi Adam?, atau sebenernya manusia purba itu beneran hewan (kera) bukan manusia?. Pak Kusno terus memikirkan ini, dan dia berniat untuk mencari tau lebih detail tentang si ‘Manusia Purba’ ini.
Di sekolah, Tina masih ingin sekali menanyakan tentang manusia purba ke gurunya, tp dia takut karena materi tersebut sudah dilaluinya dulu dikelas tujuh. “ah nanti aja nanyanya kalo udh sepi”, gumam Tina dalam hati. Saat selesai sekolah kebetulan dia bertemu dengan Pak Soewardi pengajar IPS. Dengan sedikit keraguan Tina mendekati pak Soewardi dan mulai bertanya,

Tina : “ siang pak, saya boleh tanya tidak pak?” , bertanya sambil menundukan kepala

Pak Soewardi : sedikit kaget, “ ouh iya siang, ada apa Tina memangnya ? ko belum pulang?”

Tina : “ gini pak, saya mau nanya tentang manusia purba, abis dulu saya kurang ngerti.”

Pak Soewardi : sambil meneruskan jalannya ke ruang guru, “ oh boleh, memangnya kenapa ko tiba-tiba kepikiran sama manusia purba? Bukannya itu materi kelas 7 ya? “

Tina : mengikuti disampingnya sambil mengangkat-angkat tali tasnya, “ iya pak, saya kemarin malam nonton acara tv tentang manusia purba, saya jadi kepikiran bener ga sih pak nenek moyang kita berbentuk kera?

Pak Soewardi : sambil tersenyum, “ nenek moyang kita seorang pelaut lah Tina.”

Tina : sedikit tertawa, “ yah pak itu mah lagu waktu saya masih SD.” Menghela nafas, “maksud saya bentuknya bapak, bukan kerjaannya pak.”

        Tak terasa mereka sudah sampai di depan ruangan guru. Dan pak Soewardi tidak masuk ke ruangan guru melainkan duduk di bangku yang berada di depan ruangan guru, dan Tina pun mengikuti duduk disebelahnya. Sebelum pak Soewardi memulai pembicaraan Tina bertanya ,

Tina : “ Pak saya tidak menggangu bapak yang ingin pulang?”

Pak Soewardi : sambil senyum dan melihat ke arah Tina, “ Tidak nak, bapak senang ada yang mau bertanya, apalagi tentang sejarah.”

Tina : sambil tersenyum lebar, “ iya pak abis saya heran kenapa ko kita dulu digambarkan sebagai bukan ‘manusia’.”

Pak Soewardi : “ iya itu kan rekonstruksi ulang dari temuan-temuan tulang belulang yang ditemukan oleh para arkeolog.”

Tina : sambil garuk kepalanya, “ rekonstruksi apa pak? Arkeolog apa pak? Hehehe, ”

Pak Soewardi : tertawa kecil, “hehehe, maaf, maaf, rekonstruksi itu membuat ulang atau membangun ulang, jadi tulang belulang yang ditemukan itu dibuat ulang. Nah arkeolog itu orang yang menggali benda-benda berkaitan manusia purba. Gitu gampangnya.”

Tina : “ oh jadi kaya lego dong pak? Hehe, disusun sampe jadi bentuk yang sempurna?”

Pak Soewardi : “ ya begitulah kalo mudahnya, sebagai contoh, kenapa disebut pithecantropus erectus , atau dalam bahasa indonesia itu manusia kera berbadan atau berjalan tegak, itu karena ditemukan tulang pahanya yang sudah mencirikan manusia purba tersebut sudah berjalan tegak. Seperti itu.”

Tina: sambil ngangguk-ngangguk, “ oh begitu pak, tapi saya masih bingung pak kenapa kita harus mempelajari sejarah manusia purba sih pak? Ato ga jelasin dikit deh pak tentang manusia purba, maaf ya pak mengganggu waktunya.”

Pak Soewardi : “ gpp ko, tenang aja, masih jam 2 juga, jadi masih banyak waktu. Okeh begini ya, kenapa kita harus belajar sejarah dulu ya, pernah dengar kata Historia Vitae Magistra?

Tina: geleng-geleng kepala, “ enggak pak! ”

Pak Soewardi: sambil senyum “ Historia Vitae Magistra merupakan istilah yang berasal dari bangsa Romawi. Yang berarti sejarah adalah guru kehidupan, nah maksudnya adalah agar dapat hidup dengan lebih baik seseorang harus berguru kepada sejarah.”

Tina : “ouwh ternyata sejarah keren juga ya pak, bisa jadi guru dan untuk menjadi lebih baik.”

Pak Soewardi : “ iya seperti itulah, gini contoh gampangnya, misalkan nih kamu naek sepeda kesekolah, ternyata di perjalanan ada jalan berlobang, n kamu jatoh karna lobang tersebut. Nah kira-kira besoknya kamu jatoh lagi ga karena lobang tersebut?”

Tina : “ ya enggak lah pak, kan saya udh tau lobangnya ada dimana.”

Pak Soewardi : senyum ke Tina, “ nah gitulah, jadi ada sejarawan dari Inggris bilang kalo 5 menit yang lalu dari hidup kita adalah sebuah sejarah, jadi intinya sejarah itu mampu mengubah kita kalo kita belajar dari sejarah.”

Tina : “ ouwh begitu ya pak, “ sambil ngangguk-ngangguk.

Pak Soewardi : “ nah gini, sejarah juga punya manfaat, salah satunya nih ya adalah memiliki peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa, jadi gini Suatu masyarakat atau bangsa tak mungkin akan mengenal siapa diri mereka dan bagaimana mereka menjadi seperti sekarang ini tanpa mengenal sejarah. Sejarah dengan identitas bangsa memiliki hubungan timbal-balik. Akar sejarah yang dalam dan panjang akan memperkokoh eksistensi dan identitas serta kepribadi suatu bangsa. Bangsa itu, karenanya, akan bangga dan mencintai sejarah dan kebudayaannya.

Tina : “ iya pak, biar kita tau bangsa kita ya pak, ya walaupun saya masih ga setuju kalo misal neneng moyang aku disamain sama kera !”

Pak Soewardi : “ ya itu kan dikembangkan berdasarkan teori evolusinya lamarck dan darwin, makanya kita mempelajari manusia purba. Dan kan memang masih samar-samar teori tentang manusia purba ini.”

Tina : melihat jam yang telah menunjukkan jam 14.30, “ makasih ya pak atas penjelasannya, ya saya jadi mengerti kenapa kita harus belajar sejarah manusia purba,”

Pak Soewardi : “ ya sama-sama , nah kalo mau lebih detail lagi, baca buku sejarah nasional indonesia tulisan dari Marwati Djoened dan Nugroho Notosutanto aja yang jilid 1.”

Tina : raut muka bingung, “ ehhh, oh iya pak nanti saya pinjem diperpus, makasih ya pak sebelumnya, saya pulang duluan ya pak, sudah dijemput.”
Pak Soewardi : “ iya, sama-sama nak, hati-hati.”

    Dalam perjalanan pulang sepertinya masih ada yang mengganjal dari hati Tina karena masih banyak yang belum dipahami dan apa saja sih jenis manusia purba, ko bisa dari monyet menjadi manusia sempurna seperti sekarang. Dalam hati kecilnya Tina, ah saya mau nanya ayah, siapa tau dia tau, hehe. Tina memang sering dijemput sama ojek langganannya, sementara si Baim sudah pulang dari bel pulang sekolah tadi bersama temanya. Baim tidak seperti Tina yang sering menanyakan apa yang dia tidak tahu, Baim lebih suka mencarinya terlebih dahulu melalui om Google, kadang ke perpus. Ya memang jarang anak SMP yang mau ke Perpustakaan dan mau belajar lebih dari temannya apalagi hal yang tidak diketahui. Walaupun seperti itu Baim tak pernah pilih teman, teman yang malas, yang rajinpun tetap ditemani, karena memang karena bakatnya di bidang olahraga yang membuatnya banyak kenal dengan teman-temannya.
    Kita balik lagi ke kantor pak Kusno. Ternyata dia sangat serius membaca di internet tentang jenis-jenis manusia purba, peninggalannya, jaman pembagian manusia purba, dan tempat dimana ditemukannya manusia purba. Sampai-sampai dia lupa harus mengerjakan kerjaan kantornya. Inilah sifat dari pak Kusno, yang selalu ingin tahu apalagi jika anaknya menanyakan sesuatu yang dia tidak bisa jawab.
     
 setelah Tina sampai dirumah......
okeh kita lanjutkan lagi materinya dan percakapan keluarga pak Kusno di post selanjutnya ya.. kali ini penulis ingin menceritakan lebih detail tentang manusia purba, baik itu kontroversinya, penentangannya, dan yang pastinya apa yang tadi ingin dijelaskan Pak Kusno ke Tina pun ga luput diceritakan....

Jangan Malu Buat Menengok Masa Lalu kita, ini Bukan Berarti Ga Move on Move on, tapi Biar Kita Belajar dari Masa Lalu kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar